Kebiasaan Memfoto Makanan Sebelum Dimakan

foto makanan

Tampilan makanan yang dipercantik sedemikian rupa turut berperan dalam menumbuhkan tren baru anak muda untuk memfoto makanan sebelum makanan tersebut dimakan. Selain itu, kecanggihan gadget yang dilengkapi kamera canggih dan aneka macam filter seakan memudahkan mereka untuk mengabadikan makanan-makanan tersebut. Sejauh apakah fenomena ini terjadi? Lalu bagaimana fenomena ini jika dilihat dari kacamata ilmu sosiologs dan psikologi?

Kebiasaan memfoto makanan sebelum makanan tersebut dimakan tak lepas dari menjamurnya media sosial dewasa ini. Media-media sosial dan kemudahan akses internet, serta kecanggihan ponsel berkamera saat ini seakan saling bahu-membahu menyokong kebiasaan ini. Dan tanpa sadar, para generasi muda kita perlahan-lahan mulai terjangkit wabah kebiasaan memotret makanan dan menggunggahnya ke laman media sosial mereka.

Selain ramai diperbincangkan di berbagai forum online dan offline, gaya hidup ini menjadi perhatian khusus para sosiolog dan psikolog di Indonesia. Menurut para sosiolog, kebiasaan ini cenderung dipacu oleh keinginan pelaku untuk menunjukkan eksistensinya di dunia maya. Hal ini cukup beralasan, mengingat semakin ramainya dunia sosial media seperti Facebook, Twitter, dan lain sebagainya saat ini, mereka merasa tertantang untuk memamerkan apapun yang mereka rasa bisa mendongkrak popularitas di tengah komunitas online tersebut.

Sedangkan para psikolog berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki kebiasaan memfoto makanan sebelum makanan tersebut dimakan lalu kemudian menggunggahnya ke media sosial, menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kecenderungan suka diperhatikan. Dan memotret makanan tersebut merupakan jalan termudah bagi mereka untuk meraih perhatian dan pengakuan dari sesamanya.

foto makanan

Uniknya lagi, terkadang mereka meng-upload suatu makanan untuk maksud tertentu di baliknya. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki selera yang tinggi, seperti memamerkan bermacam makanan mancanegara Eropa dan sebagainya, atau seberapa sehatnya gaya hidup mereka, seperti memamerkan salad hijau dan yoghurt; walaupun sebenarnya mereka tak benar-benar menyukai hidangan tersebut. Lucu kan?

Tak jarang, demi memenuhi keinginan mereka untuk menunjukkan gaya hidup mereka yang tinggi, mereka khusus meluangkan waktu dan budget untuk pergi ke resto atau bistro mahal dan memesan makanan istimewa. Kemudian setelah makanan sampai di meja, yang pertama dilakukan adalah memotret makanan dari berbagai sudut, bak seorang fotografer professional spesialis kuliner. Setelah siap dengan foto makanan yang keren, segera foto digital tersebut diunggah ke media sosial dan menunggu respon kekaguman dari seantero dunia. Lebih gilanya lagi, makanan yang telah habis-habisan difoto, biasanya hanya dikonsumsi seporsi kecil saja, lalu ditinggalkan begitu saja.

Jika sudah sampai ke taraf ini, gaya hidup memotret makanan mungkin sudah mengganggu dan bisa dikategorikan sebagai tanda-tanda gangguan mental. Namun jika memotret makanan dilakukan for fun, hal ini bisa dikategorikan sebagai hobi fotografi yang cukup unik, asal dilakukan dengan niat dan proporsi yang tepat.

Fun facts: Tahukah Anda bahwa setiap menitnya ada sedikitnya 27.000 foto baru yang diunggah via Instagram, dan 208.000 foto ke Facebook. Itu berarti Instagram menerima 450 foto perdetiknya, sedangkan Facebook menerima 3466 foto perdetik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s